July 24, 2013

Tentang Rindu yang Luar Biasa Untuk Ayah Tercinta.. :)

Ayah,,,
apa yang kau rasakan disana?
Bahagiakah?
Bersedihkah?

Ayah,,,
tangisku, tak kan dapat memutar waktu
Sesalku tak kan dapat memelukmu
Dan harapku, tak kan mampu tuk kembalikanmu

Ayah...
Semasa kecil kami belum mengerti
Apa arti pengorbanan seorang ayah
Selalu berjuang demi kebutuhan anakmu
Tanpa mengenal waktu
Engkau rela di hina dan di maki
Demi anak-anakmu

Ayah...
Saat detik kepergianmu
Menghembus nafas terakhir
Kami seperti tak percaya
Karena beberapa detik
Engkau telah pergi untuk selamanya

Ayah...
Sungguh bagiku hidup ini terasa berat untuk dijalani
Sungguh bagiku sulit untuk menerima semua kenyataan ini
Tak pernah kubayangkan sebelumnya,
Betapa kesepian nya ibu tanpa hadirmu
Betapa berat beban ibu untuk mengasuh aku dan adik-adikku
Betapa tegarnya ibu saat kau putuskan harapan nya

Ayah...
Apakah engkau mengerti akan kerinduanku saat ini
Betapa hidup ini amat sangat berat setelah kau tiada
Betapa semua terasa sulit saat kau tak lagi ada
Aku merindukanmu ayah,, sangat merindukanmu
Tapi inilah takdir
Kami harus tetap tegar
Melepaskan dengan ikhlas
Walau kadangkala ku menangis

Ayah...
Betapa anakmu kehilangan
Dan selalu terbayang wajahmu
Serasa engkau masih bersama kami

Ayah...
Aku bersyukur pernah merasakan kasih dan sayangmu
Kau berikan aku pengertian yang aku tidak mengerti
Kau ajari aku pelajaran yang aku tidak pahami
Kau guru sekaligus jaksa yang paling adil untuk keluargamu
Sampai kau merasa lelah dan sudah cukup untuk menuntun kami
Lalu kau titipkan kami pada ibu
Aku bangga memiliki ayah sepertimu
Kini hanya do’a yang mampu sampai ketempat terindahmu
Semoga Alloh selalu memberi kebahagiaan untukmu
Seperti halnya kau berikan pada kami  

Ayah...
Maaafkan anakmu ini
Yang belum mampu membahagiakan dirimu
Di waktu hidup dan tua mu
Kini aku hanya bisa berusaha
Dengan setiap apa yang kupunya
Dengan setiap ucap dalam doa

Ya As-Sami’...
Engkau maha mendengar
Perkenankan permohonan kami
Ya Al-Ghafur...
Ampuni dosa dan kesalahan ayah kami
Semasa hidup dan mati nya
Ya Al-Maajid…
Tempatkan ia pada kemuliaanmu
Karena disisiMu tempat kemuliaan kami

Ayah...
Kami anak-anakmu
Kini hanya dapat mendo’akanmu
Semoga engkau tenang disisiNya

Teringat pada sebuah catatan yang kutulis dulu :

Demi pendidikanku ia korbankan segalanya
Demi sekolahku ia kerjakan apapun tanpa rasa malu
Demi hidupku ia relakan hidupnya
Ia tak pernah beristirahat walau sedetik

Aku selalu teringat pada ayah
Teringat pada logika sederhana nya
Yang mampu merubah hal-hal biasa menjadi begitu memesona
Teringat pada sikap tenang nya
Teringat pada diam nya yang mengandung jutaan makna
Aku juga teringat ketika ia melirikku
Saat teman-temannya mengetahui bahwa aku sudah bisa membaca meski umurku belum lima tahun
Teringat pada senyum hangatnya ketika aku menjadi juara kelas
Teringat ketikaa iaa mengepalkan tangan saat aku juara lomba dokter kecil tingkat kecamatan dan menjadi utusan ke kabupaten
Aku teringat pada bahasa tubuhnya
Dan aku tahu ia bangga padaku meski tak sepatah katapun terucap

Ia menikmati kebanggaan itu dengan diam
Melewati momen-momen itu hanya dengan tersenyum
Meski aku tahu jantungnya berlonjak girang
Itulah ayah...
Tak seorangpun tahu bahwa ia tokoh utama dibalik kesuksesanku
Karena ia lebih memilih untuk menjadi sosok dibalik layar
Ia rela berhutang untuk membelikanku buku bacaan
Ia rela menemaniku membaca hingga larut malam
Meski tubuhnya letih tak terperi dengan kantuk yang tak tertahan
Ia menaikkanku ke sepeda bututnya untuk sekedar mengikuti keinginanku menonton komedi putar
Ia rela bahunya kujadikan pijakan tuk sekedar melongok ke kandang buaya
Ia tak malu mengenakan baju koko yang tetas jahitan nya di hari lebaran yang dipenuhi aroma baju baruku
Ia sigap menampung semua masalah yang tak bisa kupecahkan
Ia tempatku bertanya, tempatku berkeluh kesah, sahabat setia yang tak mengharapkan balasan apapun

Kini ribuan mohon kulayangkan, ribuan doa kukirim,
Ribuan harap kutitip pada siang, malam, matahari, bumi, bulan, dan semua yang kutemui
Kukatakan pada mereka, jika kalian bertemu Tuhan tolong sampaikan padaNya bahwa aku sangat merindukan ayah
Aku ingin menatap ayah yang menatapku penuh kasih
Aku ingin menyentuhnya seperti ia membelaiku
Aku ingin memeluknya seperti ia menggendongku

Di suatu malam, aku pernaah bermimpi
Seseorang yang tahu siapa berbisik padaku bahwa doaku telah terkabul
Doaku yang ribuan jumlahnya sesungguhnya telah terkabul sejak lama
Seseorang itu berkata :
”jika kau ingin bertemu ayahmu, bertemulah dengan Alloh
  jika kau ingin meminta maaf pada ayahmu, minta maaflah pada alloh
  karena ia telah berada di sisi Nya
  bersemayam di putihnya awan bersama para syuhada”

Mimpi itu menyadarkanku,
Doaku telah dikabulkan hingga kaki kecilku terbiasa lagi melangkah kerumahnya
Doaku terkabul hingga kini mulutku terbiasa lagi memuji kebesarannya
Doaku terkabul hingga hatiku terbiasa lagi untuk bersyukur atas nikmatNya
Doa-doaku terkabul dalam wujud yang tak pernah kuduga sebelumnya
Maha suci Alloh yang telah menyatakan sesuatu yang ghaib dalam gapaian logika manusia

Meski ayah tak lagi ada di dunia ini
Namun sosok keteladanan nya tetap melekat di hati
Takkan lekang dihantam waktu
Bahkan dalam wafatnya pun ia tetap berjasa
Doa yang kumohon atasnya, kini kembali padaku
Menjadikanku manusia yang jauh lebih baik


Ya Alloh, ampunilah dosa-dosanya dan sayangilah ia seperti ia menyayangiku
Hanya kepadMu aku meminta dan hanya kepadaMu aku memohon perlindungan
Sungguh maha suci engkau, yang telah mengabulkan semua doa

Ayah...
Pengorbananmu takkan pernah terbalas
Jasamu akan selalu ku ingat
Kasih sayangmu akan selaalu bersemayaam di hatiku
Terimakasih Ayah..


(Kutulis dengan penuh haru dan tetesan air mata rindu, menjelang 2 tahun kepergian ayah dari dunia ini.. aku merindukanmu ayah..)

26-03-2010 ___ 23-03-2012


Surat Cinta Untuk Alm Ayah

Ayah sayang, apa kabar? Semoga ayah di negeri abadi senantiasa tersenyum seperti senyum ayah di masa-masa sulit dulu. Senyuman yang merangkum ikhlas, sabar, dan optimisme yang selalu mampu membuatku terpesona. Semoga Allah senantiasa melimpahkan cintaNya melebihi limpahan cinta ayah yang mengisi setiap lembar-lembar hidupku. Amiin.

Atas nama cinta kutuliskan catatan ini, satu dari sekian banyak catatan tentang ayah yang selalu ingin kukirim ke negeri abadi, tempat ayah kini berada. Setiap catatan adalah lukisan peristiwa dan luapan rasa yang berbukit-bukit tentang rindu yang luar biasa dari seorang anak kepada ayahnya.

Ayah, menyebut namamu, mengalunkan vibrasi dalam denyut nadiku, memenuhi rongga tubuhku dengan getaran. Jutaan getaran yang ditimbulkan oleh perasaan-perasaan yang berbeda, menyatu, membuatku terpekur dalam kerinduan. Rindu pada segala hal tentang ayah.

Ayah, aku ingin ayah tahu bahwa aku disini baik-baik saja. Ayah tidak perlu khawatir ya. Aku kangen ayah, kangen sekali. Rasa itu membuncah dalam dada. Setiap hari kucoba menitipkan rasa itu lewat doa-doa panjangku. Kuharap ayah bisa merasakannya. Banyak yang hilang dari hidupku sejak ayah pergi.

Ketika pucuk-pucuk pohon telah menjadi pangkal bagi tunasnya,
Ketika sayap-sayap telah lelah untuk menjelajah,
Dan ketika aroma tanah basah telah hilang, menjadi untaian jelaga dan kepanasan,
Barulah aku sadar….

Sudah dua tahun, dua tahun aku jauh dari ayah, dua tahun aku tidak mendengar nasihat dari ayah, dua tahun aku lepas seperti kapas, dua tahun aku tidak terbakar oleh kobaran semangat ayah, dan dua tahun aku mencoba tetap tegar menghadapi segala persoalan hidup, mencari setiap solusi yang aku butuhkan. Sendiri.

Bukan waktu yang singkat untuk sebuah perasaan kehilangan, dan bukan waktu yang terlalu lama untuk sebuah tahapan pendewasaan. Entahlah,, baru sekarang aku sadar batapa diri ini sangat rindu. Rindu pada setiap canda dan tawa yang kau tawarkan, cerita-cerita konyol, nasihat klasik dan bara semangat yang senantiasa mendidihkan keberanianku di waktu yang lalu. Dan ketika itu, semua hanya biasa. Tak pernah ada kesan istimewa. Tapi sekarang, yang biasa itulah justru yang sangat aku rindukan.

Ayah, kau tak pernah berhenti mengungkap segala harapan dan impian. Harapan yang kau berikan pada anakmu, keinginan tuk jadikan aku yang luar biasa. Harapan agar aku menjadi yang paling indah dan berarti. Hanya untuk sebuah alasan, “karena aku adalah anakmu”.

Kau tak pernah rela aku berada pada satu titik kesalahan, yang mungkin akan membawaku pada sedikit kemunduran. Dan kaupun selalu bangga dengan prestasi yang coba ku ukir, meski itu hanya untuk sedikit langkah yang lebih maju.

Dan sekarang aku disini, berada di puncak ambisiku, mencoba berdiri untuk menyusun pembuktian bahwa aku memang layak menjadi anakmu, dengan sebuah keyakinan bahwa doa dan semangatmu masih melekat erat di urat dan syarafku. Nasihatmu adalah solusi bagiku.

Ayah, banyak cerita yang ingin aku sampaikan padamu. Cerita-cerita tentang kemajuan yang aku dapatkan dalam dua tahun ini, pengalaman-pengalaman hidup yang dulu senantiasa kau ceritakan padaku. Aku telah mencoba untuk menjadi seseorang yang bukan anak-anak lagi, berusaha untuk mewarnai setiap lembaran kehidupanku dengan goresan-goresan warna yang indah. Mencoba untuk mencari arti sebuah hidup dan kebahagiaan. Tidak mudah memang, tapi kesulitan itulah yang menjadi warna bagi hidupku.dan apa yang telah dan kini aku hadapi barulah sedikit dari sekian banyak pelajaran hidup yang telah kau rasakan.

Perjalanan hidupmu yang tidak semua orang bisa melaluinya, tekad dan kemauan untuk menjadi yang terbaik, serta ketegaranmu dalam melangkah, itulah yang membuatku bangga menjadi anakmu. Dan sekarang kaulah yang harus bangga karena memiliki aku.

Ayah, betapa kerinduan ini semakin dalam. Walaupun banyak hal menyenangkan yang aku temui, kadang aku merasa lelah, letih dengan semua yang aku hadapi. Merasa putus asa dan ingin menyerah bila menghadapi masalah, meskipun itu belum seberapa.

Ayah, mengapa terkadang aku merasa dunia begitu tidak adil padaku? Kau meninggalkan aku disaat aku benar-benar butuh pendampingan darimu. Dari sosok seorang ayah. Aku merasa ditinggalkan.
Astaghfirullahal’adziim
Allah, aku tidak bermaksud untuk menggugatMu atau menuntut yang lain dariMu. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaan fitrahku, dan terkadang aku merasa berhak untuk itu. Aku ingin menangis, Ya Allah. Tapi aku tidak bermaksud untuk tidak ikhlas dengan semua kehendakMu, aku juga tak ingin air mataku menjadi penghalang bagi perjalanan ayahku menghadapMu. Aku hanya merasa aku berhak untuk menangis, meskipun terkadang aku tak tahu mengapa harus menangis. Tapi bukankah itu hak ku sebagai manusia??

Ayah, harapan yang kau letakkan di pundakku, harapan itulah yang senantiasa menjadi tonggak penyangga hingga aku tetap bisa bertahan menghadapi semua.

Ayah, ada banyak sekali potret ayah yang tersimpan dalam bingkai kenanganku, potret diri ayah dengan setiap nasihat dan kata-kata bijak yang kini menjadi salah satu pemanduku dalam mengarungi lautan kehidupan. Ayah tahu, mengenang ayah adalah mengenang sosok pencinta kehidupan dan sungguh aku banyak belajar dari ayah. Ayah adalah tauladan. Aku telah memahami bahwa mencintai berarti menghargai. Mencintai hidup berarti menghargai hidup. Dan itu yang aku lakukan sekarang dan seterusnya hingga kelak Allah memanggilku untuk kembali. Aku janji ayah!! Aku kini mencoba menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Sekarang aku sedang berjuang untuk menyelesaikan Tugas Akhir ku. Insya Allah bulan September aku wisuda. Meski ayah tak dapat menghadirinya, tapi aku bisa menghadirkan dalam benakku senyum bangga ayah. Ya ayah,, aku harap ayah bangga padaku.

Ayah, sebenarnya aku sangat ingin mengatakan padamu. Dulu, mungkin karena rasa malu atau keluguan, aku terlalu enggan untuk menyatakan bahwa aku sayang ayah, aku cinta ayah. Sebuah rasa cinta kedua, yang aku curahkan setelah rasa cintaku pada-Nya.

Ayah, aku sayang padamu. Walaupun sekarang jarak maupun waktu tidak memungkinkan kita tuk bersua, tapi kau kan selalu ada di hatiku dan di setiap perjalanan hidup yang aku lalui.

Memang benar, terkadang kita merasa bahwa kita mempunyai sesuatu yang sebenarnya sangat berharga justru pada saat kita telah kehilangan.

Ya Allah,,, mudahkanlah jalanku
Untuk beribadah kepadaMu dengan
Melaksanakan amanah orangtuaku

Ya Allah,,, jadikan aku seorang anak
Yang benar-benar bisa berbakti kepada orangtua
Sabarkan aku untuk menghadapi segala kondisi

Ya Allah,,, pertemukanlah aku dengan orang-orang
Yang aku sayangi di akhirat nanti
Semoga jerih payah ini kan menjadi
Buah yang manis di masa depanku
Dan menjadi jalan pahala bagi orangruaku
Amiin

Aku yakin, banyak hikmah yang akan Allah berikan dibalik semua peristiwa yang telah terjadi. Dan aku yakin inilah pilihan yang terbaik bagiku dan bagi semuanya.

Ayah, segala rasa terimakasih terangkai untuk semua yang telah ayah berikan. Semua pengorbanan, tauladan dan nasihat yang tak pernah lelah ayah curahkan. Terimakasih untuk segala cinta yang selama ini menyelimutiku hangat. Terimakasih untuk semua maaf dan senyum penuh pengertian yang selalu terlantun saat aku khilaf. Terimakasih untuk semuanya.

Dalam setiap sujud-sujudku, aku senantiasa berharap Allah membalas setiap kebaikan ayah dengan jannahNya. Dalam setiap do’a aku senantiasa memohon agar Allah berkenan mempertemukan dan mengumpulkan kita di jannahNya. Jika kesempatan itu kelak Allah berikan, maka aku akan katakan pada ayah, aku sangat mencintai ayah.

Ayah, semoga jalinan kasih sayang ini akan senantiasa terpaut, dan semoga Allah mempertemukan dan mengumpulkan kita semua di firdausNya,amiin. Ayah, maafkan putrimu ini. Aku paling tidak bisa untuk bermain kata-kata, merayu, apalagi menggombal. Sungguh ini adalah ungkapan hati. Ayah, rindu dan cinta ini akan selalu hadir. Aku takkan pernah lupa dengan semua nasihatmu. Aku takkan pernah lupa dengan semua kasih sayangmu, aku takkan pernah lupa dengan semua pengorbananmu


Ayah, doa dan harapanmu akan senantiasa menjadi pengiring langkah hidupku, karena aku adalah anakmu..

ditulis : 11 Juni 2012


Tentangmu, Ayah

Allahu Akbar, Allahu Akbar
Laa ilaha ilallahu Allahu Akbar
Allohu Akbar walillaa iLham..

Lantunan takbir begitu membahana, terdengar bersahut-sahutan begitu menentramkan hati siapapun yg mendengar.. Meriahnya kembang api, petasan, dan berbagai euforia menyambut datangnya hari raya Idhul Fitri begitu terasa.

Namun hati ini,, entah mengapa dan bagaimana,, ingin sekali menangis. Sejak siang td, butiran bening seakan tak ingin bertahan di dalam mataku, semuanya tumpah, saat q ingat semua tentangmu ayah.. Kurasa bukan hal yg salah jika q menangis, kurasa ini fitrah sebagai seorang anak yg sangat merindukan orangtuanya yg telah tiada, kuyakin ini air mata rindu, rindu yg begitu luar biasa kepadamu ayah.. Sejak engkau meninggalkan kami sekeluarga 2,5 tahun yg lalu, sudah 2 kali lebaran bahkan q tak secengeng ini.. Dan ini lebaran ketiga yg akan aku lalui tanpamu,, entahlah,, tahun ini q sangat cengeng ketika mengingatmu.. Semua kenangan tentang kita mendadak muncul dan menyadarkanku akan banyak hal. Tahun ini,, aku lulus kuliah, aku akan wisuda, aku akan bekerja, dan ayah tak bisa melihat semua itu. Sungguh miris ketika ingat itu,, meski sekuat hati mengikhlaskan, tp setiap kudengar takbir itu mataku tak kuasa menahan air mata.. Aku akan wisuda tanpamu, aku akan bekerja tanpa bisa kau rasakan hasil kerja kerasku, kelak suatu saat aku akan menikah tanpa wali darimu ayah.. 

Bismillah,, q yakin bisa melewati semuanya.. Sekali lagi, aku hanya merasa pantas untuk menangis karna ini hanyalah air mata rindu, dan aku akan selalu mendoakan segala yg terbaik untukmu ayah,, tunggu aku besok ya ayah,, selepas sholat ied aku pasti akan mengunjungimu, dan akan aku nantikan ayah di mimpiku malam ini. Salam sayang selalu dr ananda ya ayah,, aku rindu ayah.. Rindu yg teramat sangat.. Selamat Hari Raya Idul Fitri,, ayah pasti bahagia disana.. :)

ditulis: 19 Agustus 2012

Mengenangmu, Ayah

2 tahun 8 bulan yg lalu…………… 
Aku masih bisa mencium tangannya,, 
Aku masih bisa mengecup lembut pipinya,, 
Aku masih bisa merasakan kharismanya seorang ayah,, 
Aku masih bisa merasakan kasih sayang tulusnya,, 
Aku masih bisa melihat wajah teduh penuh cinta,, 

Jum’at , 26 Maret 2010 tepat puku 11.00 Wib 
Ajal telah menjemput ayahku,, sosok yang paling aku sayang,, yang paling aku hormati,, yang paling aku patuhi,, yang amat sangat aku cintai... 
Ya Rabbil’izzati... 
Hamba tak pernah mengira ayah akan Kau panggil secepat ini... 
Dalam usia belum genap 47 Tahun... Meninggalkan ibu dan ke tiga putri nya..... 
Putri yg masih sangat kecil untuk merasakan kehilangan seorang ayah.. 
Meskipun sangat berat, ku coba untuk tegar sekuat mungkin.. 
Pikiranku kalut, pikiranku kacau, aku benar2 hilang arah saat itu... 
Ibu yang telah keburu pingsan, tak kuasa melihat kepergian ayah. Dan aku mencoba tegar menemani saat terakhir beliau di dunia ini.. dengan kondisi yg amat sangat lemah, kucoba membimbing ayah untuk mengucap lafadz2 Alloh hingga nafasnya benar2 terhenti... 

Innalillahi wainnailaihi roji’un... 
Ayahku telah tiada.... 
Ayahku telah menghadap Alloh Swt dengan tenang... 
Dan seketika itu aku sadar.... AKU ANAK YATIM..... 
Ya .... Aku anak Yatim sekarang.... 

Kucoba menguatkan ibuku, meski beliau tetap meronta... 
Dan aku kembali sadar.... 
Sekarang, akulah tumpuan keluargaku.... 
Aku anak pertama, dengan dua orang adik, dan ibu yg tak bekerja... 
Ya Allah,, sungguh berat rasanya kulalui hidup ini sekarang... 
Tp aku tak boleh menyerah.. 
Aku percaya ini adalah jalan terbaik yang Tuhan tunjukkan untuk ku dan keluargaku... 
Tabahkan hati kami Ya Rabbi, Sabarkan hati kami, mudahkanlah kami melalui hidup ini tanpa sosok seorang ayah... Berikan tempat yang terbaik untuk alm ayah disana Ya Allah. 

Atas nama cinta kusampaikan doa ini, satu dari sekian banyak doa untuk ayah yang selalu ingin kukirim ke negeri abadi, tempat ayah kini berada. Setiap doa adalah lukisan peristiwa dan luapan rasa yang berbukit-bukit tentang rindu yang luar biasa dari seorang anak kepada ayahnya. 

Ayah, menyebut namamu, mengalunkan vibrasi dalam denyut nadiku, memenuhi rongga tubuhku dengan getaran. Jutaan getaran yang ditimbulkan oleh perasaan-perasaan yang berbeda, menyatu, membuatku terpekur dalam kerinduan. Rindu pada segala hal tentang ayah. 

Ayah, aku ingin ayah tahu bahwa aku disini baik-baik saja. Ayah tidak perlu khawatir ya. Aku kangen ayah, kangen sekali. Rasa itu membuncah dalam dada. Setiap hari kucoba menitipkan rasa itu lewat doa-doa panjangku. Kuharap ayah bisa merasakannya. Banyak yang hilang dari hidupku sejak ayah pergi. 

Ketika pucuk-pucuk pohon telah menjadi pangkal bagi tunasnya, 
Ketika sayap-sayap telah lelah untuk menjelajah, 
Dan ketika aroma tanah basah telah hilang, menjadi untaian jelaga dan kepanasan, 
Barulah aku sadar…. 

Sudah dua tahun, dua tahun aku jauh dari ayah, dua tahun aku tidak mendengar nasihat dari ayah, dua tahun aku lepas seperti kapas, dua tahun aku tidak terbakar oleh kobaran semangat ayah, dan dua tahun aku mencoba tetap tegar menghadapi segala persoalan hidup, mencari setiap solusi yang aku butuhkan. Sendiri. 

Bukan waktu yang singkat untuk sebuah perasaan kehilangan, dan bukan waktu yang terlalu lama untuk sebuah tahapan pendewasaan. Entahlah,, baru sekarang aku sadar batapa diri ini sangat rindu. Rindu pada setiap canda dan tawa yang kau tawarkan, cerita-cerita konyol, nasihat klasik dan bara semangat yang senantiasa mendidihkan keberanianku di waktu yang lalu. Dan ketika itu, semua hanya biasa. Tak pernah ada kesan istimewa. Tapi sekarang, yang biasa itulah justru yang sangat aku rindukan. 

Ayah, kau tak pernah berhenti mengungkap segala harapan dan impian. Harapan yang kau berikan pada anakmu, keinginan tuk jadikan aku yang luar biasa. Harapan agar aku menjadi yang paling indah dan berarti. Hanya untuk sebuah alasan, “karena aku adalah anakmu”. 

Kau tak pernah rela aku berada pada satu titik kesalahan, yang mungkin akan membawaku pada sedikit kemunduran. Dan kaupun selalu bangga dengan prestasi yang coba ku ukir, meski itu hanya untuk sedikit langkah yang lebih maju. 

Ayah, betapa kerinduan ini semakin dalam. Walaupun banyak hal menyenangkan yang aku temui, kadang aku merasa lelah, letih dengan semua yang aku hadapi. Merasa putus asa dan ingin menyerah bila menghadapi masalah, meskipun itu belum seberapa. 

Ayah, mengapa terkadang aku merasa dunia begitu tidak adil padaku? Kau meninggalkan aku disaat aku benar-benar butuh pendampingan darimu. Dari sosok seorang ayah. Aku merasa ditinggalkan. 
Astaghfirullahal’adziim 
Allah, aku tidak bermaksud untuk menggugatMu atau menuntut yang lain dariMu. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaan fitrahku, dan terkadang aku merasa berhak untuk itu. Aku ingin menangis, Ya Allah. Tapi aku tidak bermaksud untuk tidak ikhlas dengan semua kehendakMu, aku juga tak ingin air mataku menjadi penghalang bagi perjalanan ayahku menghadapMu. Aku hanya merasa aku berhak untuk menangis, meskipun terkadang aku tak tahu mengapa harus menangis. Tapi bukankah itu hak ku sebagai manusia?? 

Ayah, harapan yang kau letakkan di pundakku, harapan itulah yang senantiasa menjadi tonggak penyangga hingga aku tetap bisa bertahan menghadapi semua. 

Ayah, ada banyak sekali potret ayah yang tersimpan dalam bingkai kenanganku, potret diri ayah dengan setiap nasihat dan kata-kata bijak yang kini menjadi salah satu pemanduku dalam mengarungi lautan kehidupan. Ayah tahu, mengenang ayah adalah mengenang sosok pencinta kehidupan dan sungguh aku banyak belajar dari ayah. Ayah adalah tauladan. Aku telah memahami bahwa mencintai berarti menghargai. Mencintai hidup berarti menghargai hidup. 

Dan itu yang aku lakukan sekarang dan seterusnya hingga kelak Allah memanggilku untuk kembali. Aku janji ayah!! Aku kini mencoba menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. 

Ayah,,, 
tangisku, tak kan dapat memutar waktu 
Sesalku tak kan dapat memelukmu 
Dan harapku, tak kan mampu tuk kembalikanmu 

Ayah... 
Semasa kecil kami belum mengerti 
Apa arti pengorbanan seorang ayah 
Selalu berjuang demi kebutuhan anakmu 
Tanpa mengenal waktu 
Engkau rela di hina dan di maki 
Demi anak-anakmu 

Ayah... 
Saat detik kepergianmu 
Menghembus nafas terakhir 
Kami seperti tak percaya 
Karena beberapa detik 
Engkau telah pergi untuk selamanya 

Ayah... 
Sungguh bagiku hidup ini terasa berat untuk dijalani 
Sungguh bagiku sulit untuk menerima semua kenyataan ini 
Tak pernah kubayangkan sebelumnya, 
Betapa kesepian nya ibu tanpa hadirmu 
Betapa berat beban ibu untuk mengasuh aku dan adik-adikku 
Betapa tegarnya ibu saat kau putuskan harapan nya 

Ayah... 
Apakah engkau mengerti akan kerinduanku saat ini 
Betapa hidup ini amat sangat berat setelah kau tiada 
Betapa semua terasa sulit saat kau tak lagi ada 
Aku merindukanmu ayah,, sangat merindukanmu 
Tapi inilah takdir 
Kami harus tetap tegar 
Melepaskan dengan ikhlas 
Walau kadangkala ku menangis 

Ayah... 
Betapa anakmu kehilangan 
Dan selalu terbayang wajahmu 
Serasa engkau masih bersama kami 

Ayah... 
Aku bersyukur pernah merasakan kasih dan sayangmu 
Kau berikan aku pengertian yang aku tidak mengerti 
Kau ajari aku pelajaran yang aku tidak pahami 
Kau guru sekaligus jaksa yang paling adil untuk keluargamu 
Sampai kau merasa lelah dan sudah cukup untuk menuntun kami 
Lalu kau titipkan kami pada ibu 
Aku bangga memiliki ayah sepertimu 
Kini hanya do’a yang mampu sampai ketempat terindahmu 
Semoga Alloh selalu memberi kebahagiaan untukmu 
Seperti halnya kau berikan pada kami 


Ayah... 
Maaafkan anakmu ini 
Yang belum mampu membahagiakan dirimu 
Di waktu hidup dan tua mu 
Kini aku hanya bisa berusaha 
Dengan setiap apa yang kupunya 
Dengan setiap ucap dalam doa 

Ya As-Sami’... 
Engkau maha mendengar 
Perkenankan permohonan kami 
Ya Al-Ghafur... 
Ampuni dosa dan kesalahan ayah kami 
Semasa hidup dan mati nya 
Ya Al-Maajid… 
Tempatkan ia pada kemuliaanmu 
Karena disisiMu tempat kemuliaan kami 

Dan kini... 
Meskipun ayah telah tiada... 
Seluruh kenangan hidupku kan menjadi saksi 
Saksi atas perjuangan..,pengorbanan..,kesungguhan.., dan keikhlasan 
Disinilah...anakmu sedang mengenang Ayah 
Dan memanjatkan do'a agar Ayah diterima di sisi-Nya. Amin 
Juga untuk orang tua sahabatku yang telah meninggal... 
Ampunilah segalah kesalahan dan dosanya... 
Lipatgandakan segala amal kebajikannya. Amin 

Ayah….. 
Masih terngiang dalam benakku 
Saat terakhir kau genggam tanganku 
Kau berbisik lemah….sangat lemah…… 
Agar aku tidak menangis lagi 

Tapi Aku tak kuasa… 
Untuk tidak menangis dipusaramu 
Hingga kubiarkan airmata ini mengalir perlahan 
jatuh terserap…. dan berharap bangunkan tidurmu 

Ayah…… 
Aku berjanji, akan slalu melanjutkan harapanmu 
Dan tetap berdiri Tegar, meski karang menghadang 

Memang benar, terkadang kita merasa bahwa kita mempunyai sesuatu yang sebenarnya sangat berharga justru pada saat kita telah kehilangan. 

Ya Allah,,, mudahkanlah jalanku 
Untuk beribadah kepadaMu dengan 
Melaksanakan amanah orangtuaku 

Ya Allah,,, jadikan aku seorang anak 
Yang benar-benar bisa berbakti kepada orangtua 
Sabarkan aku untuk menghadapi segala kondisi 

Ya Allah,,, pertemukanlah aku dengan orang-orang 
Yang aku sayangi di akhirat nanti 
Semoga jerih payah ini kan menjadi 
Buah yang manis di masa depanku 
Dan menjadi jalan pahala bagi orangruaku 

Rabighfirlii waliwalidyiya warhamhumaa kamaa robbayanii soghiro, robbana aatinaa fiddunya khasanah wa fil aakhiroti khasanah waqinaa adzabannar. Amin 

ditulis : 26 November 2013

Ibu,, You are My Everything

Apapun yang terjadi ..
Aku tidak akan pernah pergi sedetikpun ..
Aku akan tetap disini,

Menjagamu ..
Memelukmu ..
Menciummu ..
Membahagiakanmu ..
Membuatmu selalu tersenyum ..

Karena untukku, tidak ada hal yang paling indah selain melihat senyum yg melengkung dari bibirmu ..
dan tidak ada waktu yang paling berkesan selain saat bersamamu ..

 Kau adalah bagian dari nafas yang aku hembuskan ..
Separuh dari nyawa yang Tuhan berikan padaku ..

Kau adalah tempat dimana aku bisa menumpahkan semua beban yang membelenggu ..
Tempat dimana aku bisa berbagi tentang semua cerita kehidupan yang aku lalui ..
Bahkan ketika aku menangis,
Tanganmulah yang pertama menghapus buliran air yang membuncah dari kelopak mataku ..

 Aku mohon,
Jangan pernah biarkan aku sendiri tanpamu ..
Berjanjilah untuk selalu menemaniku ..
Sekarang ataupun nanti di lain kehidupan,
Aku ingin terus bersamamu ..
Dalam dekap hangatmu,
Yang membuat aku tenang di ruang kegelisahan ..
Dalam genggaman tanganmu,
Yang membuat aku tegar menjalani pahitnya kehidupan ..

Kaulah wanita pertama dan terakhir yang aku cinta ..
Semua kasih yang kau curahkan seperti sinar dalam gelapnya hidupku ..

Aku mencintaimu Ibu …
Lebih dari aku mencintai hidupku …
Setiap aku pulang, Aku sering memperhatikan lelapnya tidur ibuku ..
Beliau seperti terlihat sangat lelah,
Mungkin terlalu banyak beban hidup yang harus ia pikul,
Hal itu yg selalu membuat aku sadar,
Semakin singkat waktuku untuk membuatnya bahagia ..
Karena kelak suatu hari ..
Aku dan ibuku harus kembali ke pangkuan pencipta kami .. Allah SWT .. T
uhan kami Yang Esa
Entah siapa yang akan pergi lebih dulu ..
Tapi saat itu pasti akan tiba juga ..
Dan sebelum waktu itu tiba,
Aku ingin membahagiakannya semampuku ..
Melakukan semua yang terbaik untuknya ..

Aku tak ingin dia kecewa telah memiliki aku ..
Karena aku tak pernah sedikitpun kecewa memilikinya ..
Beliau terlalu indah untukku …
Beliau adalah malaikat terbaik yang dikirimkan Tuhan untuk menjaga hidupku …..

Aku mencintainya Diatas rasa cintaku padaku hidupku sendiri
Semenjak kepergian ayah 26 Maret 2010 silam, kau lantas menjadi orangtua tunggal untuk kami..
untuk aku dan kedua adik-adikku..
Kau mampu memposisikan diri menjadi Ibu sekaligus ayah bagi kami,
Kau mampu memerankan tugas sebagai kepala keluarga
Kau mampu mengurus segala urusan rumah tangga, sendiri..
Bukan hal yang mudah untukmu, Ibu..
dengan segala keterbatasan yang ada mampu bertahan demi semuanya.. sekali lagi,,
Aku sangat menyayangimu,,
Lebih dari diriku sendiri...
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmatNya untukmu..

Template by : kendhin x-template.blogspot.com